Senin, 15 Maret 2010

MANDALAWANGI - PANGRANGO


Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu


walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan 
dan aku terima kau dalam keberadaanmu 
seperti kau terima daku 

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi 
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada 
hutanmu adalah misteri segala 
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta 

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali 
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua 

"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar 
'terimalah dan hadapilah 

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara 
aku terima ini semua 
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu 

aku cinta padamu Pangrango 
karena aku cinta pada keberanian hidup 

Jakarta 19-7-1966

Puisi-puisi dari Soe Hok Gie memang banyak memberikan inspirasi termasuk untuk para pendaki gunung. 
Soe Hok Gie, lahir di Jakarta 17 Desember 1942, seorang mahasiswa UI tahun '66 yang juga aktivis dan banyak menyuarakan tentang HAM dan tentang semua ketidakadilan yang terjadi di masa itu. Orangnya idealis, berani dan gigih. Dia mengobarkan pemikiran dan sikapnya melalui tulisan, dalam mimbar diskusi, rapat senat mahasiswa sampai berdiri di barisan terdepan dalam demonstrasi menentang rezim Soekarno. Dia juga tergabung dalam Mapala UI. Alun-alun Mandalawangi di gunung Pangrango adalah tempat favoritnya. Dia meninggal di gunung Semeru bersama seorang kawannya akibat menghirup gas beracun yang menghembus dari kawah Mahameru, tanggal 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Pada tahun 1975, makamnya dibongkar dan tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango. 

Cita-cita Soe Hok Gie untuk mati di tengah alam betul-betul kesampaian. Cocok dengan ungkapan dari puisi Yunani yang suka dikutipnya; "Nasib terbaik adalah tak dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda."
Soe Hok Gie memang mati muda. Tapi semangatnya tetap hidup dan memberi inspirasi pada banyak orang.


0 komentar:

Posting Komentar